Wednesday, May 24, 2006



  • BUTA CINTA : Sesat Di Dunia, Merana Di Akhirat,
    Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani

  • Di Sebuah Taman Kota Metropolitan......
    Para pekerja yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar. Raungan bunyi ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal ini. Kelihatan beberapa petugas kesehatan begitu sibuk memberi pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah Rel Kereta API di Kota tersebut. Naas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragis dan memilukan.

    Apa yang terjadi sebenarnya? Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad membunuh diri dengan menutup Jalan Kereta API,pada saat itu mereka mengikat diri di rel tersebut. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman dengan kondisi tubuh hancur di lindas Kereta api, sehingga begitu sukar pihak bertanggung jawab memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu ‘mengharukan’!. Didalam rel kereta tersebut ditemui selembar kertas yang telah mereka tanda tangani. Antara isi kandungannya; tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan untuk membuktikan cinta abadi kami sehidup semati. Dan di bagian akhir surat tersebut tercatat bahwa mereka melakukan ini demi menyelamatkan cinta ‘sejati’ yang ‘suci’ ini karena orang tua mereka tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah…!
    Di sebuah rumah di Jazirah Arab 1400 tahun yang lampau…
    Abdullah bin Abu Bakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berfikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Sudah tentu Abdullah amat mencintai istri yang sangat sempurna menurut pandangan manusia.
    Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lewat di rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama untuk sholat berjamaah di masjid. Namun apabila beliau mendapati anaknya sedang bermesraan dengan Atikah dengan lembut dan romantis sekali, beliau membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.
    Setelah selesai menunaikan sholat Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar RA apabila beliau mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum beliau menunaikan sholat di masjid. Kemudian Abu Bakar RA segera memanggil Abdullah, seterusnya bertanya : " Wahai Abdullah, adakah kamu sholat berjemaah? " Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata : "Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melupakan kamu dari sholat fardhu, ceraikanlah dia!" Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu bakar mendapati anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau mendapati Abdullah mulai sibuk dengan istrinya yang cantik. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur.
    Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa membuat dalih apatah lagi mencoba membunuh diri, Abdullah terus mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!!!
    Dari dua petikan kisah di atas, marilah kita sama-sama bertafakkur tentang hakikat dan bagaimana cinta sejati, tulus dan suci itu sebenarnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan sentiasa dipenuhi dengan warna-warna cinta. Bahkan kita dapat ungkapkan bahwa kehadiran manusia di muka bumi ini disebabkan Allah SWT meletakkan sebuah perasaan di dalam jiwa manusia, dan dia adalah cinta.
    Membicarakan tentang cinta ibarat menguras air lautan dalam yang kaya dengan pelbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita akan sentiasa menemui berjuta macam benda. Dari sekecil-kecil ikan hingga ikan paus yang terbesar. Dari kerang sampai mutiara malah jika diizinkan Allah, kita mungkin menemui bangkai kapal dan bangkai manusia!!!
    Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ ada 1000 kisah cinta. Dan jika di muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah cinta akan hadir.
    Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair, drama, film,Sinetron, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi saja. Versi cinta nafsu (syahwat) dan cinta Rabbani.
    Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana cinta syahwat dan mana cinta Rabbani? Derasnya arus ghazwul fikr (serangan pemikiran) dalam kesenian terutamanya, telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta "suci" yang mesti diperjuangkan, dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.
    Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragis yang berakhir di hujung pisau atau dalam segelas racun. Mereka semua rela diseret dan dijeremuskan ke dalam lubang ‘neraka’ hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta.
    Cinta memiliki kekuatan luar biasa. Dan kekuatan cinta (the power of love) mampu menjadikan manusia pribadi yang sangat nekad atau sangat taat. Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah seperti berkhalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram), berkasih-kasihan lelaki dan perempuan, berpegangan tangan, mempertontonkan adegan birahi percuma di khalayak ramai apatah lagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina (na’udzubillah min dzalik). Dan tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup melakukan perbuatan yang dilaknat Allah yaitu membunuh diri demi cinta.
    Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan sebagai sarana mencapai tujuan. Oleh itu tidaklah mengherankan jika kita banyak menemui berbagai perilaku aneh para pencari cinta yang tak masuk akal. Sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan perkara yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengartikan makna cinta sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling layak dicintai, kerana Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul ‘Alamin.
    Kisah tragis di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh diri dengan berbagai cara ini pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah syaitan laknatulllah. Pada momen ini syaitan berteriak keriangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan kerana berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam dalam neraka jahannam dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.
    Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya. Kerana yang mampu mengenal warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal fikirannya.
    Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mengagumkan. Pribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada sesuatu. Namun kerena cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperolehi keridhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana hanya kerena kehilangan cinta duniawi karena Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman Pribadi-pribadi taat ini amat menyadari bahawa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah ridha dan cinta kasih Allah, bukan cinta yang bersifat sementara.
    Kisah Abdullah putera Abu Bakar RA menjadi contoh kematangan pemuda yang mengenal arti cinta. Bayangkan!! Dia memiliki isteri yang amat cantik, berakhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun apabila ayahandanya memerintahkan untuk menceraikan isterinya, dengan alasan isterinya telah melalaikan Abdullah dalam menunaikan hak Allah seterusnya akan membuat Abdullah lalai dari berjihad di jalan Allah. Maka apa reaksi Abdullah? Tidak!! Abdullah tidak marah langsung pada ayahnya. Atau berusaha mengambil pedang dan ingin memenggal kepala si ayah yang berusaha memisahkan jalinan cinta yang memang sudah sah itu. Sekali lagi tidak!! Pemuda yang bernama Abdullah melihat perintah itu dengan kacamata cinta yang diberikan Allah. Ia rela menceraikan isteri yang dicintainya demi mempererat hubungan cinta dengan Allah. Subhanallah… Masih adakah pemuda-pemuda seperti peribadi Abdullah di zaman globalisasi kini?
    Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga. Manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selaras dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.Wallahu ‘Alam


    “Cinta Sejati Ketika Kita Cinta Allah lebih diatas segala-galanya ,karena Dialah yang Kekal abadi Sedangkan lainnya akan Fana”
  • Sunday, May 07, 2006



    Pacaran Budaya Siapa? .....

    Cinta itu membuat sesuatu tampak lebih indah. Kenyataannya tidak selamanya,
    setidak-tidaknya yang terjadi pada diriku sekali ini. Cinta malah membuatku

    menjadi gusar, marah, sedih .. ah, yang pahit-pahit, lah ! Segala sesuatu

    yang seharusnya tampak berbunga-bunga, kini malahan menjadi kelabu.

    Ini terjadi semenjak aku menganal seorang gadis teman kuliahku. Orangnya

    sederhana saja. Hanya saja, dari pengamatanku selama ini, aku melihat ia

    memiliki keistimewaan dan nilai lebih dibandingkan wanita lain yang pernah

    kutemui. Wajahnya yang teduh, cara berbicara yang lembut dan berwibawa,

    serta kepribadiannya yang menawan membuat aku terpana. Aku benar-benar

    mengaguminya dan kurasa aku telah jatuh cinta padanya.

    Pernah sekali kucoba untuk berbicara serius dengan wanita idamanku itu. Tapi,

    setiap kali aku ingin menyusun kata-kata, di situ pula pikiranku menjadi

    buntu. Dan tampaknya ia memahami kesulitanku tadi. Akh ... entahlah, aku tak

    tahu apa yang harus kuperbuat. Terkadang kucoba untuk melupakannya, namun

    semakin kucoba melupakannya aku malah semakin mengingatnya.

    Sebenarnya bukan jatuh cinta yang membuatku jadi begitu. Sudah berulangkali

    aku mengalaminya dan tak satu pun yang membuatku gelisah. Tapi semuanya

    disebabkan oleh prinsip-prinsip yang selama ini aku pegang. Cinta tak

    selamanya harus memiliki. Cinta itu memberi tanpa harap menerima. Cinta itu

    hanya dapat dirasakan dan tak dapat dinyatakan. Semua itu adalah sebagian

    prinsip yang selama ini aku tegakkan setiap kali orang frustasi bertanya

    kepadaku tentang cinta. Tapi, ketika aku frustasi kini, tak satupum

    prinsip-prinsip itu dapat aku terima untuk mengobati hatiku yang malang ini.

    Aku ingin menyatakan cintaku. Aku ingin memilihnya sebagai orang yang selalu

    mendampingiku di setiap suka dan duka.


    "Pacaran itu dosa, lho!" ujar seorang teman yang kupercayai kredibilitas

    keagamaanya. Ucapan itu membuatku semakin gundah. Di satu sisi aku ingin

    memprotesnya, tapi di sisi lain aku sangat cinta kepada Islam yang selama ini

    aku perjuangkan, "Bukankah Allah-lah yang sepatutnya kita cintai ?" ujar

    temanku itu mengulangi perkataan yang dulu pernah aku lontarkan di setiap

    diskusi tentang iman. Itu membuatku malu pada diriku sendiri dan benci pada

    cinta ini.



    Tak ada pilihan lain. Aku harus menemui Pak Kiai untuk menemukan jawaban yang

    tak kunjung kudapat. Masalah ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut.


    Kualngkahkan kakiku melintasi jalan setapak yang telah setahun tak pernah

    kuinjak. Sunyinya jalan itu membuat aku terus memikirkan yang telah terjadi.

    Setiap belokan membuatku mendesah seraya menyesali diri. Tak adakah hal lain

    yang dapat kupikirkan selain cinta dan cinta ?



    Sebenarnya aku sangat ngeri meminta nasihat dari Pak Kiai yang setiap

    perkataannya selalu membuat telingaku memerah. Kata-katanya tak pernah lembut,

    seringkali kasar dan tidak sopan. Tak peduli apakah yang datang kepadanya

    seorang pejabat, bandit, atau orang yang sedang susah. Ia selalu memuntahkan

    kata-kata dengan intonasi, kosakata, volume suara, dan koefisien kekasaran

    yang tak berbeda. Baginya semua manusia sama. Dia pun tak sungkan untuk

    diprotes meski oleh orang bergelimang dosa sekalipun. Mungkin hal itulah yang


    menyebabkan aku selalu menaruh kepercayaan yang besar akan keikhlasannya

    membimbing umat. Apalagi setiap kali aku berbicara kepadanya, selalu ada saja

    hal-hal baru yang dapat aku bawa pulang.



    "Mau apa kau ke sini ?" tanya Pak Kiai memulai kebiasaanya: kasar.



    "Aku sedang jatuh cinta, Pak Kiai!" jawabku langsung ke pokok permasalahan

    sebab aku tahu Pak Kiai tak suka basa-basi.



    "Baguslah kalau begitu. Itu tandanya kau masih manusia."



    "Tapi, Pak Kiai, aku jatuh cinta pada seorang wanita. Bagaimana itu Pak?

    Apa yang harus kulakukan?"



    "Bayangkanlah kalau kau jatuh cinta pada seorang pria. Kenapa kau merasa

    gelisah sekali dengan mencintai seorang wanita? Apakah ia wanita yang nggak

    beres?"



    "Oh, tidak! Dia wanita baik-baik. Baiiik sekali. Dia menjalankan agamanya

    dengan sepenuh hati. Dia cukup membatasi pergaulannya dengan setiap lelaki.

    Yah, itulah yang mungkin menjadi masalah padaku. Coba kalau dia itu wanita

    yang nggak beres, tentu masalahnya tak serumit ini."



    "Kau bodoh. Seharusnya kau bahagia mencintai wanita seperti itu. Coba

    bayangkan kalau kau mencintai wanita slebor. Hatimu akan terus sibuk

    memikirkan setiap tingkah lakunya. Kau akan merasakan cemburu, sakit hati,

    membenci, dendam, bisa-bisa kau gila. Pikiranmu akan terus tersita dengan

    wanita seperti itu. Kapan lagi kau mau ingat Allah? Bukankah mencintai

    wanita

    yang sholeh membuatmu sadar untuk bertindak seperti orang yang kau cintai?"



    "Benar, Pak! Lalu, apakah aku boleh berpacaran dengannya? Aku merasa tidak

    puas hanya dengan berteman dengannya. Perlu Pak Kiai ketahui bahwa banyak

    orang mengatakan bahwa pacaran itu haram karena dengan pacaran hati kita akan


    sibuk mengingat kekasih kita sehingga kita lalai dari mengingat Allah.

    Bagaimana pula kalau dengan pacaran malah mebuat kita semakin ingat dengan

    Allah?"



    Pak Kiai diam sejenak. Dahinya yang hitam mengkerut seolah memikirkan sesuatu


    yang sangat berat. Matanya sesekali memandang ke arahku dengan tajam.



    "Maaf Nak! Aku sudah tua. Banyak sekali hal-hal yang sudah aku lupakan.

    Tolong kau jelaskan kepadaku apa yang kau maksud dengan pacaran. Setahuku,

    kata itu belum pernah aku jumpai di kitab fikih manapun sehingga dapat

    ditentukan halal haramnya. Sudah kuingat-ingat pula segala ilmu tasawuf,

    juga kata itu tak kutemukan di sana. Berikanlah gambaran kepadaku tentang

    pacaran agar aku dapat menentukan hukumnya!"



    "Begini, Pak! Pacaran itu diawali dengan suatu perjanjian untuk saling

    mengenal satu sama lainnya, terus dari kenalan tadi diharapkan masing-masing

    pihak dapat saling memahami pasangannya, terus ...", tiba-tiba saja aku

    merasa buntu. Aku coba mencari penjelasan yang tepat tentang pacaran, tapi

    aku tak tahu. Ternyata, pacaran yang selama ini aku inginkan tak pernah

    kutahu apa maknanya.



    Melihat yang ditanya kebingungan, Pak Kiai coba membantu, "Apa saja yang

    dilakukan orang ketika pacaran?"



    "Banyak, Pak! Ada yang ngobrol-ngobrol kadang tak tentu arah, sering-sering

    menelpon pacarnya, ada yang suka pergi berdua-duaan dan ... yah begitulah.

    Pak Kiai saya kira juga tahu. Tapi, tunggu dulu Pak Kiai, yang akan kulakukan


    bukan seperti itu. Aku akan membicarakan dengannya masalah agama, saling

    menjaga diri dengan saling mengingatkan bila berbuat khilaf, pokoknya yang

    Islami-lah Pak," sahutku.



    "Ooh, begitu. Lalu apa bedanya dengan berteman? Kau kira kau tidak punya

    kewajiban seperti itu terhadap seorang teman? Kau kira kepada teman kau boleh

    berlaku tak Islami?"



    "Coba aku tanyakan kepadamu, apakah kekuatan perjanjian itu sehingga tak dapat


    memisahkan pemilikan satu dengan lainnya? Apakah kau mengatasnamakan Allah

    dalam perjanjian tadi? Mengapa tak sekalian nikah saja? Khan dengan nikah kau


    bahkan lebih leluasa lagi. Tak seorang laki-laki pun berhak memiliki seorang

    wanita tanpa melalui nikah. Bahkan ayahnya sendiri yang membesarkan dan

    memberi makan serta pendidikan kepadanya. Sampai-sampai si ayah pun tak

    berhak memaksa anak wanitanya menikahi pria yang bukan pilihan sang anak.

    Itulah yang Islami!"" ucap Pak Kiai dengan cepat bagai rentetan peluru.



    "Lalu apa yang sudah kau berikan padanya sampai-sampai kau ingin memilikinya?


    Lebih baik kau tunjukkan rasa cintamu dengan tanggung jawab sebagai seorang

    sahabat yang Islami. Biarkan cinta bersemi dalam hatimu karena itu anugerah

    Allah yang harus kau syukuri, bukan ingkari. Cinta itu amanat Allah, maka

    jangan kau khianati. Pacaran yang kau maksud sebenarnya hanya kata tanpa

    makna yang akan menjerumuskan orang pada penghalalan zina dalam dirinya. Kau

    mungkin sakit hati mendengar perkataanku ini, tapi apa artinya menyenangkan

    hatimu kalau yang kusampaikan itu akan menjerumuskanmu dan membuatmu

    menyesal kelak."



    Aku terdiam tak tahu harus berkata apa. Kurasakan lidahku kelu untuk

    mengucapkan sesuatu.



    "Sudahlah, kalau kau ingin pacaran juga, silakan saja, aku tak berhak memaksa.

    Aku hanya ingin kau berpikiran dewasa dan tidak menghabiskan waktumu untuk

    sesuatu yang kau sendiri tak tahu manfaatnya."





    *---*

    By*Our Best Friend:

    Yudi.A, yudi198@puspa.cs.ui.ac.id*

    "Mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan adalah yang membuat hatimu

    tenang, sedangkan keburukan adalah yang membuat hatimu gelisah."




    Saturday, April 29, 2006

    BUAT ANDA YANG MEMBUTUHKAN BAHAN_BAHAN KULIAH,
    ATAU BAHAN BACAAN. DAPATKAN EBOOKSNYA
    DENGAN MENGHUBUNGI
    ayubcharter@gmail.com

    Thursday, April 20, 2006

    Cinta dan Mencintai Allah


    Cinta kepada Allah adalah diatas segala- galanya. Sehingga haruslah dipahami

    hakikat dan keutamaan mencintai Allah serta bagaimana mewujudkan perasaan

    cinta kepada-Nya.

    ORANG - ORANG YANG DICINTAI ALLAH :

    Allah Subhannahu wa Ta'ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta'ala
    berfirman di dalam surat Al-Ma'idah: 54, yang artinya: "Maka Allah akan
    mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah."

    Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala :
    a. Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka
    bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik)
    Shabirun (bersa-bar),

    b.Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan
    seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.

    c. Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin. Orang yang
    menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.
    d. Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.
    e. Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.
    f. Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.

    CARA - CARA untuk MENDAPATKAN CINTA ALLAH SWT
    :

    1. Membaca Al-Qur'an dengan memikirkan dan memahami maknanya.
    Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.

    2. Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala , baik dengan lisan, hati
    maupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.

    3. Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala daripada
    dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.

    4. Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.

    5. Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.

    6. Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.

    7. Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah
    turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur'an ,
    merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah
    kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.

    8. Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah
    dari para ulama dan da'i, mendengar-kan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembicaraan yang baik.

    9. Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat
    Allah Subhannahu wa Ta'ala .





    Dear Ukhti-ukhtiku…..

    Dear ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah, apa kabar iman-mu hari ini? Semoga Allah Yang Maha Indah selalu memberi keindahan padamu dan melindungimu dari segala keburukan
    Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah, sebaik2 perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Dan "perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima waktu dan ketaatannya terhadap suami." (HR.Ibnu Hibbab dari Abu Hurairah)

    Ukhti-ukhtiku,
    Pagi ini aku membaca sebuah buku didalamnya terdapat 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah.
    Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya, bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah.
    Wasiat tsb adl:
    1.Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.

    2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikana dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah

    3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu org yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang

    4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.

    5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah

    6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

    7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.

    8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

    9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

    10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.

    Ukhi-ukhtiku yang kucintai karena Allah Begitu indah menjadi wanita Dengan kelembutan dan kasihnya Dapat merubah dunia Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah Agar negeri menjadi indah Karena dirimu adalah tiang negeri ini
    Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah Tidakkah dirimu galau Melihat keadaan negeri saat ini Apa yang akan kau katakan pada anakmu kelak Saat ia bertanya mengapa negeriku sperti ini?Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah Karena esok negeri ini ditangan generasi kita
    Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah Begitu indah menjadi istri Setiap perbuatannya merupakan pahala untukmu Lakukan dengan ikhlas karena Allah Insya Allah dunia akhirat ada ditanganmu
    Ukti-ukhtiku yang kucintai karena Allah Semoga Allah yang Maha baik Menjadikan kita wanita dan istri sholehah Membantu dan membimbing kita untuk tetap dijalanNya Amiin.
    Untuk ukti-ukti ku dimanapun dirimu berada... miss U

    by edhipur
    Muhammad aiyub: publikasi